Header Ads

Friday, May 25, 2018

RAMADHAN, SAATNYA MENJINAKKAN MUSUH TERSAYANG


Oleh : H. Yusron Kholid



ð  Siapakah musuh tersayang manusia ?
Target utama dari rangkaian puasa ramadhan bukan hanya sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak kumpul istri selama siang hari, tapi sesungguhnya mempunyai target yang lebih besar, yakni perang menundukkan dan menjinakkan hawa nafsu, sebagaimana yang disampaikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat usai memenangkan peperangan badar, di saat para sahabat merayakan euphoria kemenangan peperangan yang mereka anggap sebagai peperangan paling dahsyat, Nabi SAW menyampaikan “  kita kembali dari jihad kecil, menuju jihad besar “

Hawa nafsu perlu dijinakkan, sebab “ tingkah liarnya “ telah berhasil mejadikan iblis sebagai makhluk terkutuk; sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghozali dalam kitab Minhajul Abdidin, dengan menyusupkan nafsu sombong dan iri, iblis yang telah lebih dari 80.000 tahun melakukan ketaatan kepada Alloh, lalu membangkang tidak mau sujud kepada Adam, maka dia dikutuk oleh Alloh. Selain itu, nafsu pula-lah yang membuat Nabi Adam dan Hawa terusir dari surga hanya dengan menyusupinya nafsu serakah dengan memakan buah khuldi dari pohon rindang yang dilarang oleh Alloh untuk mendekatinya. Demikian juga putra Adam; Habil dan Qabil,  yang saling membunuh pun karena provokasi dan infiltrasi hawa nafsu. Begitu besar ancaman kerusakan dan kebinasaan yang diakibatkan oleh hawa nafsu jika tidak dijinakkan dan diarahkan, yang demikian itu oleh karena dua alasan ; selain nafsu telah ada dan bercokol dalam diri manusia, dia juga merupakan musuh tapi dicintai manusia atau dengan istilah “ musuh tersayang “

ð  Bagaimana cara menjinakkan ?
Untuk menjinakkan si musuh tersayang atau hawa nafsu itu, diantaranya Alloh mensyari’atkan puasa Ramadhan, agar  bisa lebih terkendali dan mudah diarahkan, sebab nafsu tidak mungkin diberangus dan dibinasakan, karena dengan nafsu pulalah manusia bisa meneruskan amanah kehidupannya dengan nikah, makan, minum, bekerja dan lainnya yang semua itu atas provokasi dan dorongan nafsu. Namun secara garis besar memang hawa nafsu cenderung pada keburukan dan kejahatan, sebagaimana yang disampaikan nabi Yusuf AS.  (QS. Yusuf : 53 ) Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan,kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku “. Tapi jika berhasil dijinakkan dan diarahkan tentulah nafsu melalui metamorfosa menjadi nafsu yang dirahmati Alloh, sebagaimana ditekankan pada lanjutan ayat di atas.
Menjinakkan nafsu agar mudah diarahkan bukanlah pekerjaan mudah, sebab sebagaimana dikisahkan, bahwa saat penciptaan nafsu, pun dilakukan eksperimen dan uji coba, ternyata hawa nafsu dapat melampui dua tahap ujian yang berupa alam yang sangat panas dan alam yang sangat dingin dalam beberapa waktu, ternyata hawa nafsu dapat melaluinya dan tidak tunduk dan tidak pula dapat dikendalikan, namun saat nafsu diuji dengan alam kelaparan, maka hanya beberapa jam ia jalani ia sudah menyatakan menyerah dan menjadi jinak sehingga lebih mudah diarahkan.
Maka puasa sebagai implementasi alam lapar tersebut memang diharapkan mampu menjinakkan nafsu agar dapat diarahkan dorongan untuk melakukan kebaikan dan ketaatan, lalu dikendalikan dengan cemeti “ Takwa “ dan “ Wira’i “, di mana takwa disebut sebagai tujuan utama berpuasa, dan wira’I adalah pembatasan diri dari hal-hal yang dapat mengganggu fokus takwa dan ibadah.

ð  Pendidikan  yang efektif dan efisien
Karena nafsu dengan sifat asalnya selalu mendorong manusia untuk berbuat kerusakan, mestinya ia dimusuhi oleh manusia, namun nyatanya justru banyak manusia menyayangi bahkan memuja dan memanjakan , padahal dengan sikap mencintai dan memanjakan nafsu liar itu manusia terancam hancur, rusak, binasa dan hina, sudah banyak bukti dan kasus tentang itu, karena para ulama salaf mengibaratkan nafsu seperti bayi, jika dimanja maka akan nglunjak, namun jika diarahkan ia akan menurut. Maka disyari’atkan puasa ramadhan menjadi rahmat dan karunia bagi umat Islam agar memiliki waktu dan cara yang efektif dan efisien dalam mendidik dan mengarakan hawa nafsunya.

Disebut cara yang efektif dan efisien, karena memang ketika hawa nafsu ketika sulit dikendalikan dengan ketakwaan dan sikap “ wira’i”  menurut Imam Ghozali dalam kitab Minhajul Abidin, dapat dididik dengan dua cara : Pertama : dengan memutus dari hal-hal yang membuat nafsu senang, ibarat seekor kuda liar, cara pertama ini adalah dengan membuatkan “ kacamata kuda dokar “ yakni kacamata dari pelat yang membuat pandangan kuda bisa fokus dan tidak tergoda oleh pandangan yang mengundang syahwat di sekitarnya., dan kedua : menambah beban ibadah padanya agar nafsu mau tunduk, sebagaimana pula kuda dengan beban yang cukup berat serta pengendalian pandangan dapat membuat kerjanya menjadi lebih efektif dan efisien

ð  Mari jinakkan hawa nafsu dengan puasa
Sesuai doa kita sejak bulan Rajab dan Sya’ban agar diberkahi Alloh, dan mohon agar kita dipertemukan dengan Ramadhan, maka saat Alloh melimpahkan karunia berupa kesempatan bertemu dengan bulan mulia dan penuh rahmat yakni Ramadhan, tentu amat mengecewakan jika kita tidak manfaatkan kemuliaan Ramadhan untuk tujuan mendidik dan menjinakkan serta mengarahkan hawa nafsu dengan mengikuti jejak Rasululloh SAW dalam tatacara berpuasa, sehingga nafsu liar kita dapat diarahkan menjadi “ nafsu yang dirahmati Alloh “ seperti statemen Nabi Ibrahim AS. Dan tentunya dengan jinaknya nafsu liar kita, kualitas iman teruji dan terbukti kuat dan kokoh karena telah berfungsi sebagai cemeti pengendali hawa nafsu liar manusia.

Selama bulan Ramadhan yang dapat kita manfaatkan dalam rangka pengendalian hawa nafsu adalah di saat siang kita sempurnakan puasa kita lahir dan batin, sedang malam harinya kita maksimalkan “ qiyam lail “ bersama dengan perangkat dzikir, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya, sehingga target utama dari disyari’atkannya puasa dapat tercapai dengan baik dan sempurna, dan kita –di akhir Ramadhan- mampu mengembalikan kondisi fitrah manusia kita bagai bayi yang baru lahir, tanpa khilaf, salah dan dosa, aamiin.






No comments:

Post a Comment

Makalah Populer

Posting Terakhir

Tags

Info Terkini

Kembali Ke atas