Oleh : H.
Yusron Kholid
ð Siapakah musuh
tersayang manusia ?
Target
utama dari rangkaian puasa ramadhan bukan hanya sekedar tidak makan, tidak
minum dan tidak kumpul istri selama siang hari, tapi sesungguhnya mempunyai
target yang lebih besar, yakni perang menundukkan dan menjinakkan hawa nafsu,
sebagaimana yang disampaikan Kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat usai
memenangkan peperangan badar, di saat para sahabat merayakan euphoria
kemenangan peperangan yang mereka anggap sebagai peperangan paling dahsyat,
Nabi SAW menyampaikan “ kita kembali
dari jihad kecil, menuju jihad besar “
Hawa
nafsu perlu dijinakkan, sebab “ tingkah liarnya “ telah berhasil mejadikan
iblis sebagai makhluk terkutuk; sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghozali
dalam kitab Minhajul Abdidin, dengan menyusupkan nafsu sombong dan iri,
iblis yang telah lebih dari 80.000 tahun melakukan ketaatan kepada Alloh, lalu
membangkang tidak mau sujud kepada Adam, maka dia dikutuk oleh Alloh. Selain
itu, nafsu pula-lah yang membuat Nabi Adam dan Hawa terusir dari surga hanya
dengan menyusupinya nafsu serakah dengan memakan buah khuldi dari pohon rindang
yang dilarang oleh Alloh untuk mendekatinya. Demikian juga putra Adam; Habil
dan Qabil, yang saling membunuh pun
karena provokasi dan infiltrasi hawa nafsu. Begitu besar ancaman kerusakan dan
kebinasaan yang diakibatkan oleh hawa nafsu jika tidak dijinakkan dan
diarahkan, yang demikian itu oleh karena dua alasan ; selain nafsu telah ada
dan bercokol dalam diri manusia, dia juga merupakan musuh tapi dicintai manusia
atau dengan istilah “ musuh tersayang “
ð Bagaimana cara
menjinakkan ?
Untuk
menjinakkan si musuh tersayang atau hawa nafsu itu, diantaranya Alloh
mensyari’atkan puasa Ramadhan, agar bisa
lebih terkendali dan mudah diarahkan, sebab nafsu tidak mungkin diberangus dan
dibinasakan, karena dengan nafsu pulalah manusia bisa meneruskan amanah
kehidupannya dengan nikah, makan, minum, bekerja dan lainnya yang semua itu
atas provokasi dan dorongan nafsu. Namun secara garis besar memang hawa nafsu
cenderung pada keburukan dan kejahatan, sebagaimana yang disampaikan nabi Yusuf
AS. (QS. Yusuf : 53 ) “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari
kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan,kecuali
(nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku “. Tapi jika berhasil dijinakkan
dan diarahkan tentulah nafsu melalui metamorfosa menjadi nafsu yang dirahmati
Alloh, sebagaimana ditekankan pada lanjutan ayat di atas.
Menjinakkan nafsu agar mudah diarahkan bukanlah pekerjaan mudah, sebab
sebagaimana dikisahkan, bahwa saat penciptaan nafsu, pun dilakukan eksperimen
dan uji coba, ternyata hawa nafsu dapat melampui dua tahap ujian yang berupa
alam yang sangat panas dan alam yang sangat dingin dalam beberapa waktu, ternyata
hawa nafsu dapat melaluinya dan tidak tunduk dan tidak pula dapat dikendalikan,
namun saat nafsu diuji dengan alam kelaparan, maka hanya beberapa jam ia jalani
ia sudah menyatakan menyerah dan menjadi jinak sehingga lebih mudah diarahkan.
Maka puasa sebagai implementasi alam lapar tersebut memang diharapkan
mampu menjinakkan nafsu agar dapat diarahkan dorongan untuk melakukan kebaikan
dan ketaatan, lalu dikendalikan dengan cemeti “ Takwa “ dan “ Wira’i “, di mana
takwa disebut sebagai tujuan utama berpuasa, dan wira’I adalah pembatasan diri
dari hal-hal yang dapat mengganggu fokus takwa dan ibadah.
ð Pendidikan yang efektif dan efisien
Karena nafsu dengan sifat asalnya selalu
mendorong manusia untuk berbuat kerusakan, mestinya ia dimusuhi oleh manusia,
namun nyatanya justru banyak manusia menyayangi bahkan memuja dan memanjakan ,
padahal dengan sikap mencintai dan memanjakan nafsu liar itu manusia terancam
hancur, rusak, binasa dan hina, sudah banyak bukti dan kasus tentang itu,
karena para ulama salaf mengibaratkan nafsu seperti bayi, jika dimanja maka
akan nglunjak, namun jika diarahkan ia akan menurut. Maka disyari’atkan puasa
ramadhan menjadi rahmat dan karunia bagi umat Islam agar memiliki waktu dan
cara yang efektif dan efisien dalam mendidik dan mengarakan hawa nafsunya.
Disebut cara yang efektif dan efisien, karena
memang ketika hawa nafsu ketika sulit dikendalikan dengan ketakwaan dan sikap “
wira’i” menurut Imam Ghozali dalam kitab
Minhajul Abidin, dapat dididik dengan dua cara : Pertama : dengan
memutus dari hal-hal yang membuat nafsu senang, ibarat seekor kuda liar, cara
pertama ini adalah dengan membuatkan “ kacamata kuda dokar “ yakni kacamata
dari pelat yang membuat pandangan kuda bisa fokus dan tidak tergoda oleh
pandangan yang mengundang syahwat di sekitarnya., dan kedua : menambah
beban ibadah padanya agar nafsu mau tunduk, sebagaimana pula kuda dengan beban
yang cukup berat serta pengendalian pandangan dapat membuat kerjanya menjadi
lebih efektif dan efisien
ð Mari jinakkan hawa
nafsu dengan puasa
Sesuai doa kita sejak bulan Rajab dan Sya’ban agar diberkahi Alloh,
dan mohon agar kita dipertemukan dengan Ramadhan, maka saat Alloh melimpahkan
karunia berupa kesempatan bertemu dengan bulan mulia dan penuh rahmat yakni
Ramadhan, tentu amat mengecewakan jika kita tidak manfaatkan kemuliaan Ramadhan
untuk tujuan mendidik dan menjinakkan serta mengarahkan hawa nafsu dengan mengikuti
jejak Rasululloh SAW dalam tatacara berpuasa, sehingga nafsu liar kita dapat
diarahkan menjadi “ nafsu yang dirahmati Alloh “ seperti statemen Nabi Ibrahim
AS. Dan tentunya dengan jinaknya nafsu liar kita, kualitas iman teruji dan
terbukti kuat dan kokoh karena telah berfungsi sebagai cemeti pengendali hawa
nafsu liar manusia.
Selama bulan Ramadhan yang dapat kita manfaatkan dalam rangka
pengendalian hawa nafsu adalah di saat siang kita sempurnakan puasa kita lahir
dan batin, sedang malam harinya kita maksimalkan “ qiyam lail “ bersama dengan
perangkat dzikir, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya, sehingga target utama
dari disyari’atkannya puasa dapat tercapai dengan baik dan sempurna, dan kita
–di akhir Ramadhan- mampu mengembalikan kondisi fitrah manusia kita bagai bayi
yang baru lahir, tanpa khilaf, salah dan dosa, aamiin.



No comments:
Post a Comment